Segala puji bagi Allah, Dzat yang menciptakan kita dari setitik air yang hina, yang maha pengasih lagi maha penyayang yang menguasai Hari pembalasan dan hakim yang seadil-adilnya. Salawat berserta salam kami curahkan untuk Rasul dan penutup para Nabi, Nabi Muhammad salallahualaihiwassalam, keluarganya, para sahabatnya dan para umatnya yang mengikuti ajarannya sampai hari ahkir nanti.
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al-Ashr : 1-3)
Berbicara tentang fitnah yang dihembuskan oleh kaum liberalisme, orientalis, nashara, dan saudara/saudari kita yang terjebak dalam pemahaman sempit, yang mengatas namakan kaum-kaum berfikir (JIL, semoga Allah membalikan hati mereka dan kembali kepada Ajaran Islam yang benar)
Mereka dengan terang-terangan menerbarkan fitnah bahwa
1.Islam mengadopsi jilbab dari budaya Bangsa Arab, dan jilbab adalah budaya arab oleh karena itu kita tidak wajib berjilbab, karena kita bukan orang arab (sesunggunya pemikiran mereka tidak berdasar dan sempit),
2.Mengatakan jilbab hanya wajib untuk istri-istri rasulullah (lagi-lagi mereka mendustakan apa yang dibawakan rasulullah).
Mereka dengan gencar menghembuskan isu-isu tidak benar ini melalui berbagai media masa, internet, buku-buku karangan mereka dan bahkan melalui dakwah mereka yang menyimpang. Kenapa saya mengatakan mereka menyimpang, sesungguhnya mereka mendustakan apa yang dibawakan oleh Rasulullah.
Jawaban keraguan
1. Jilbab adalah budaya Arab
Dari sini paling tidak ada dua hal yang perlu dijawab. Pertama, benarkah
jilbab adalah tradisi berpakaian wanita arab pada awal pertumbuhan Islam?
Kedua, benarkah jilbab hanya khusus untuk wanita arab dan tak wajib bagi
muslimah non arab untuk mengenakannya?
Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah
turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31:
(dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka.).
Riwayat lain menerangkan: "Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera
mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya
sebagai jilbab." (HR. Hakim).
Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:
"Bahwasannya 'Aisyah RA. Berkata: "Ketika turun ayat 31 surat Annur (dan
hendaklah mereka menutupkan "khumur" -jilbab- nya ke dada mereka.) maka para
wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya
sebagai jilbab." (HR. Bukhari).
Kedua hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa pada saat turunnya ayat
tersebut para shohabiyyah (wanita dari kalangan sahabat) sedang tidak
mengenakan "khumur" (jilbab) dan memang mereka belum biasa mengenakannya.
Buktinya, saat itu mereka harus merobek kain sarung mereka untuk
dialih-fungsikan menjadi jilbab. Jika mereka sudah biasa memakainya tentunya
jilbab itu telah tersedia dan tak perlu lagi untuk menyulap kain sarung
mereka menjadi jilbab "darurat." Dari sini jelaslah bahwa jilbab bukanlah
merupakan budaya dan tradisi wanita arab pada awal pertumbuhan Islam, tetapi
suatu hal yang disyariatkan oleh Islam dan dilaksanakan oleh seluruh
shohabiyyah. Hingga akhirnya pakaian tersebut mentradisi dan menjadi budaya
Islam. Dengan ini, berarti pertanyaan pertama telah terjawab.
Sedang pertanyaan kedua, yakni apakah jilbab hanya untuk orang arab saja,
maka ini terjawab dengan keuniversalan Islam. Islam adalah agama yang
diperuntukkan bagi seluruh manusia, melampaui batas waktu dan geografi.
Allah berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada manusia seluruhnya, sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui." (Qs. Saba':28). Karena jilbab (busana penutup
aurat) adalah bagian dari syariat Islam maka ia juga diperuntukkan bagi
seluruh wanita muslimah di manapun ia berada hingga hari kiamat kelak.
2. Jilbab hanya wajib bagi istri-istri Rasulullah
Orang yang mengatakan bahwa jilbab (dikenal juga dengan sebutan hijab)
hanyalah wajib bagi istri-istri Rasulullah berdalil dengan ayat 33 surat
Al-Ahzab. Sebab konteks ayat tersebut ditujukan kepada mereka. Karenanya
larangan untuk tabarruj dan kewajiban mengenakan jilbab hanyalah wajib bagi
mereka saja.
Pernyataan ini terjawab dengan dua hal:
a. Para ahli tafsir memberikan komentar atas ayat tersebut bahwa
meninggalkan tabarruj juga diperintahkan kepada seluruh wanita mukminah.Imam Ibnu Katsir berkomentar: "Ini adalah
hal-hal yang diperintahkan Allah kepada istri-istri Nabi, dan seluruh wanita
mukminah dalam hal ini harus mengikuti mereka." (lihat, Tafsir Ibnu Katsir).
b. Sebutlah misalnya bahwa, benar ayat surat Al-Ahzab: 33 tersebut
khusus untuk istri-istri Rasulullah, namun ada ayat lain yang dengan jelas
mengatakan bahwa kewajiban berjilbab itu diperuntukkan bagi seluruh wanita
mukminah. Yaitu Firman Allah:
"Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan
hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab) nya ke dadanya."
(Qs.Annur: 31 - lihat tulisan sebelumnya)
3. Jilbab adalah sekedar simbol
Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jilbab hanyalah sebuah simbol.
Sedang yang penting bagi seorang muslim adalah baiknya budi pekerti dan
bersihnya hati. Dari pada berjilbab tapi kelakuannya berantakan, bukankah
lebih baik tidak berjilbab tapi bertingkah laku baik.
Kata-kata ini sebetulnya terlihat baik, akan tetapi sebenanya jika kita telaah lebih dalam makna dari kata-kata ini rancu. Baik menurut siapa???baik menurut Allah atau baik menurut perasaan kita????sedangkan jilbab hukumnya wajib yang artinya dikerjakan mendapat pahala ditinggalkan akan mendapat dosa, artinya selama wanita baligh (dewasa) tidak menggunakan jilbab maka selama itu pula Ia menanggung dosa (karena tidak berjilbab).
Karenanya, menanggapi komentar di atas seharusnya seorang muslim berkata:
"Lebih baik berjilbab dan mempunyai akhlak yang baik dari pada berperilaku
baik tapi tidak berjilbab." Atau: "Sayang sekali, perilakunya baik tapi kok
tidak berjilbab."
Semua yang benar itu datangnya dari Allah yang maha mengetahui kebenaran dan yang salah datangnya dari diri saya pribadi yang penuh kelalaian dan dosa. Sekiranya tulisan saya bermanfaat, ambillah manfaatnya sedangkan jika tidak bermanfaat (karena tidak sesuai dengan Al-quran dan hadist) tinggalkanlah
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al-Ashr : 1-3)
Berbicara tentang fitnah yang dihembuskan oleh kaum liberalisme, orientalis, nashara, dan saudara/saudari kita yang terjebak dalam pemahaman sempit, yang mengatas namakan kaum-kaum berfikir (JIL, semoga Allah membalikan hati mereka dan kembali kepada Ajaran Islam yang benar)
Mereka dengan terang-terangan menerbarkan fitnah bahwa
1.Islam mengadopsi jilbab dari budaya Bangsa Arab, dan jilbab adalah budaya arab oleh karena itu kita tidak wajib berjilbab, karena kita bukan orang arab (sesunggunya pemikiran mereka tidak berdasar dan sempit),
2.Mengatakan jilbab hanya wajib untuk istri-istri rasulullah (lagi-lagi mereka mendustakan apa yang dibawakan rasulullah).
Mereka dengan gencar menghembuskan isu-isu tidak benar ini melalui berbagai media masa, internet, buku-buku karangan mereka dan bahkan melalui dakwah mereka yang menyimpang. Kenapa saya mengatakan mereka menyimpang, sesungguhnya mereka mendustakan apa yang dibawakan oleh Rasulullah.
Jawaban keraguan
1. Jilbab adalah budaya Arab
Dari sini paling tidak ada dua hal yang perlu dijawab. Pertama, benarkah
jilbab adalah tradisi berpakaian wanita arab pada awal pertumbuhan Islam?
Kedua, benarkah jilbab hanya khusus untuk wanita arab dan tak wajib bagi
muslimah non arab untuk mengenakannya?
Imam Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang menggambarkan saat-saat setelah
turunnya ayat perintah menutup aurat, yaitu Surat Annur ayat 31:
(dan hendaklah mereka menutupkan khumur- jilbab- nya ke dada mereka.).
Riwayat lain menerangkan: "Wanita-wanita (ketika turun ayat tersebut) segera
mengambil kain sarung mereka, kemudian merobek sisinya dan memakainya
sebagai jilbab." (HR. Hakim).
Imam Bukhari juga meriwayatkan hal senada:
"Bahwasannya 'Aisyah RA. Berkata: "Ketika turun ayat 31 surat Annur (dan
hendaklah mereka menutupkan "khumur" -jilbab- nya ke dada mereka.) maka para
wanita segera mengambil kain sarung, kemudian merobek sisinya dan memakainya
sebagai jilbab." (HR. Bukhari).
Kedua hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa pada saat turunnya ayat
tersebut para shohabiyyah (wanita dari kalangan sahabat) sedang tidak
mengenakan "khumur" (jilbab) dan memang mereka belum biasa mengenakannya.
Buktinya, saat itu mereka harus merobek kain sarung mereka untuk
dialih-fungsikan menjadi jilbab. Jika mereka sudah biasa memakainya tentunya
jilbab itu telah tersedia dan tak perlu lagi untuk menyulap kain sarung
mereka menjadi jilbab "darurat." Dari sini jelaslah bahwa jilbab bukanlah
merupakan budaya dan tradisi wanita arab pada awal pertumbuhan Islam, tetapi
suatu hal yang disyariatkan oleh Islam dan dilaksanakan oleh seluruh
shohabiyyah. Hingga akhirnya pakaian tersebut mentradisi dan menjadi budaya
Islam. Dengan ini, berarti pertanyaan pertama telah terjawab.
Sedang pertanyaan kedua, yakni apakah jilbab hanya untuk orang arab saja,
maka ini terjawab dengan keuniversalan Islam. Islam adalah agama yang
diperuntukkan bagi seluruh manusia, melampaui batas waktu dan geografi.
Allah berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada manusia seluruhnya, sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui." (Qs. Saba':28). Karena jilbab (busana penutup
aurat) adalah bagian dari syariat Islam maka ia juga diperuntukkan bagi
seluruh wanita muslimah di manapun ia berada hingga hari kiamat kelak.
2. Jilbab hanya wajib bagi istri-istri Rasulullah
Orang yang mengatakan bahwa jilbab (dikenal juga dengan sebutan hijab)
hanyalah wajib bagi istri-istri Rasulullah berdalil dengan ayat 33 surat
Al-Ahzab. Sebab konteks ayat tersebut ditujukan kepada mereka. Karenanya
larangan untuk tabarruj dan kewajiban mengenakan jilbab hanyalah wajib bagi
mereka saja.
Pernyataan ini terjawab dengan dua hal:
a. Para ahli tafsir memberikan komentar atas ayat tersebut bahwa
meninggalkan tabarruj juga diperintahkan kepada seluruh wanita mukminah.Imam Ibnu Katsir berkomentar: "Ini adalah
hal-hal yang diperintahkan Allah kepada istri-istri Nabi, dan seluruh wanita
mukminah dalam hal ini harus mengikuti mereka." (lihat, Tafsir Ibnu Katsir).
b. Sebutlah misalnya bahwa, benar ayat surat Al-Ahzab: 33 tersebut
khusus untuk istri-istri Rasulullah, namun ada ayat lain yang dengan jelas
mengatakan bahwa kewajiban berjilbab itu diperuntukkan bagi seluruh wanita
mukminah. Yaitu Firman Allah:
"Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: "Hendaklah mereka
menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan
hendaklah mereka menutupkkan khumur (Ind: jilbab) nya ke dadanya."
(Qs.Annur: 31 - lihat tulisan sebelumnya)
3. Jilbab adalah sekedar simbol
Sementara itu ada yang mengatakan bahwa jilbab hanyalah sebuah simbol.
Sedang yang penting bagi seorang muslim adalah baiknya budi pekerti dan
bersihnya hati. Dari pada berjilbab tapi kelakuannya berantakan, bukankah
lebih baik tidak berjilbab tapi bertingkah laku baik.
Kata-kata ini sebetulnya terlihat baik, akan tetapi sebenanya jika kita telaah lebih dalam makna dari kata-kata ini rancu. Baik menurut siapa???baik menurut Allah atau baik menurut perasaan kita????sedangkan jilbab hukumnya wajib yang artinya dikerjakan mendapat pahala ditinggalkan akan mendapat dosa, artinya selama wanita baligh (dewasa) tidak menggunakan jilbab maka selama itu pula Ia menanggung dosa (karena tidak berjilbab).
Karenanya, menanggapi komentar di atas seharusnya seorang muslim berkata:
"Lebih baik berjilbab dan mempunyai akhlak yang baik dari pada berperilaku
baik tapi tidak berjilbab." Atau: "Sayang sekali, perilakunya baik tapi kok
tidak berjilbab."
Semua yang benar itu datangnya dari Allah yang maha mengetahui kebenaran dan yang salah datangnya dari diri saya pribadi yang penuh kelalaian dan dosa. Sekiranya tulisan saya bermanfaat, ambillah manfaatnya sedangkan jika tidak bermanfaat (karena tidak sesuai dengan Al-quran dan hadist) tinggalkanlah

